Feed on
Posts
comments

Tanda-Tanda Lailatul Qodar

Lailatul-Qodar mempunyai beberapa alamat atau tanda, baik secara langsung (yaitu pada malamnya) maupun setelah terjadi (yaitu pada pagi harinya).

Adapun alamat secara langsung (yaitu pada malamnya) di antaranya:

1. Sinar cahaya sangat kuat pada malam Lailatul-Qodar dibandingkan dengan malam-malam yang lainnya. Tanda ini pada zaman sekarang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang tinggal ditempat yang jauh dari sinar listrik atau sejenisnya.

2. Bertambah kuatnya cahaya pada malam itu.

3. Thumaninah. Yaitu ketenangan dan kelapangan hati yang dirasakan oleh orang-orang yang beriman lebih kuat dari malam-malam yang lainnya.

4. Angin dalam keadaan tenang pada malam Lailatul-Qodar, tidak berhembus kencang (tidak ada badai) dan tidak ada guntur. Hal ini berdasarkan hadits dari shohabat Jabir bin Abdillah sesungguhnya Rosululloh bersabda (yang artinya): Sesungguhnya Aku melihat Lailatul-Qodar kemudian dilupakannya, Lailatul-Qodar turun pada 10 akhir (bulan Ramadan) yaitu malam yang terang, tidak dingin dan tidak panas serta tidak turun hujan?. (HR. Ibnu Khuzaimah no.2190 dan Ibnu Hibban no.3688 dan dishohihkan oleh keduanya).

Kemudian hadits dari shohabat Ubadah bin Shomit sesungguhnya Rasulullah bersabda (yang artinya) “Sesungguhnya alamat Lailatul-Qodar adalah malam yang cerah dan terang seakan-akan nampak didalamnya bulan bersinar terang, tetap dan tenang, tidak dingin dan tidak panas. Haram bagi bintang-bintang melempar pada malam itu sampai waktu subuh. Sesungguhnya termasuk dari tandanya adalah matahari terbit pada pagi harinya dalam keadaan tegak lurus, tidak tersebar sinarnya seperti bulan pada malam purnama, haram bagi syaithon keluar bersamanya (terbitnya matahari) pada hari itu?. (HR. Ahmad 5/324, Al-Haitsamy 3/175 dia berkata : perawinya tsiqoh)

5. Terkadang Allah memperlihatkan malam Lailatul-Qodar kepada seseorang dalam mimpinya. Sebagaimana hal ini terjadi pada diri para shahabat Rosululloh.

6. Kenikmatan beribadah dirasakan oleh seseorang pada malam Lailatul Qodar lebih tinggi dari malam-malam yang lainnya.

Adapun alamat setelah terjadi (yaitu pada pagi harinya) di antaranya: Matahari terbit pada pagi harinya dalam keadaan tidak tersebar sinarnya dan tidak menyilaukan, berbeda dengan hari-hari biasanya. Hal ini berdasarkan hadits dari shohabat Ubay bin Kaab yang mengatakan: “Sesungguhnya Rasulullah mengkabarkan kepada kami: “Sesungguhnya matahari terbit pada hari itu dalam keaadaan tidak tersebar sinarnya?. (HR. Muslim no.762, 2/828)
Adapun alamat yang menyebutkan bahwa tidak ada atau sedikit gonggongan anjing pada malam Lailatul-Qodar adalah tidak benar, karena terkadang dijumpai pada 10 malam terakhir di bulan Ramadan anjing dalam keadaan menyalak/menggonggong.

Jangan Pernah Berhenti..

Bismillah…
Hidup terus berjalan seiring dengan bertambahnya usia.
Setiap dimensi kehidupan telah dan akan dilalui, yang kemudian akan
bermuara pada kembalinya diri kepada Sang Pemilik Kehidupan.
Sedih,
kesal, penat, bosan, marah, emosi dan sebagainya adalah sisi lain dari
indahnya hidup. Ketika manusia mau menikmati kesenangan hidup, maka ia
pun harus berani menghadapi sisi lain dari kehidupan.
Adalah fitrah
manusia, ketika Allah memberinya ujian maka perasaan kesal, marah,
emosi, mudah mengeluh muncul dalam diri. Semua manusia akan merasakan
hal yang sama, yang membedakan adalah penyikapan terhadap ujian
perasaan tersebut.
Ada, bahkan mungkin banyak yang menjadikan marah
dan emosi sebagai masinis dalam dirinya, mempermainkan fluktuasi
keimanan, sehingga akan berujung pada kesia-sian yang berkepanjangan
dan kerugian yang banyak. Masalah tidak akan begitu saja berlalu dan
selesai dengan emosi, marah dan keluhan. Disisi lain, tidak akan ada
amalan yang di dapat ketika hal tersebut menguasai diri. Jadi 2
kerugian yang akan di peroleh, masalah yang semakin rumit dan energi
yang terbuang, tidak menjadi amal.
Namun tidak sedikit yang
menjadikan sabar dan syukur sebagai qawwan dalam dirinya dan menguasai
ruhnya. Ia berusaha bersabar dan mencoba untuk terus bersabar dalam
menunaikan amanah ujian dari Allah, hingga akhirnya ia akan mencapai
pada titik klimaks kemenangan. Ya… Hakikatnya, ujian adalah amanah yang
harus tertunaikan dan buahnya adalah kemenangan.
Hidup memang tidak
mudah, tetapi kemudahan dapat di hidupkan. Kepenatan, kemarahan,
turunnya kualitas ibadah dan kegersangan ruhiyah adalah titik klimaks
dari kelalaian seorang hamba dalam menjalani ujian hidup. Matikan
kelalaian itu dengan hati yang hidup dalam mewujudkan kemudahan hidup.
Berhentilah sejenak saudaraku… Berhentilah di sini…
Berhentilah di terminal ruhiyah, agar hati damai dan tenang terasa hingga tulang sum-sum.
Jangan pernah berhenti saudaraku… Untuk selalu dalam keistiqamahan.
Jangan pernah berhenti, untuk selalu bermunjat pada-Nya ketika kegalauan dan kepenatan hati telah menguasai diri…
Jangan pernah berhenti, untuk selalu memohon dan meminta pada-Nya ketika cita-cita telah sirna namun asa masih menggunung…
Jangan pernah berhenti, untuk selalu memupuk semangat dan keoptimisan
ketika hati mulai rapuh dan patah, sampai Allah memberikan kemenangan.
Jangan pernah berhenti saudaraku… Untuk selalu melantunkan bait-bait
doa meskipun di kantor, jalan, sekolah, kampus, pasar, kendaraan,
kereta, pesawat….dan di hati ini… Allah Maha Mendengar bisikan hati…
“Iman seorang mukmin akan tampak di saat ia menghadapi ujian. Di saat
ia totalitas dalam berdoa, tapi ia belum melihat pengaruh apapun dari
doanya. Ketika, ia tetap tidak merubah keinginan dan harapannya, meski
sebab-sebab putus asa semakin kuat. Itu semua dilakukan seseorang
karena keyakinannya bahwa hanya Allah saja yang paling tahu apa yang
lebih maslahat bagi dirinya. Ia yakin bahwa dengan ujian itu, Allah
ingin melihat tingkatan kesabaran dan keimanannya. Ia yakin bahwa
dengan keadaan itu, Allah menghendaki hatinya menjadi luruh dan pasrah
kepada-Nya. Atau, boleh jadi melalui ujian itu, Allah menghendaki
dirinya untuk lebih banyak lagi berdoa sehingga ia lebih dekat lagi
dengan-Nya melalui doa-doanya. ” (Shaidul Khatir, 375). Begitulah
nasihat dari Ibnul Jauzi.
Jangan pernah berhenti untuk selalu
berusaha ikhlas dan tawadhu mengumpulkan butiran-butiran amal dalam
setiap fase hidup, karena kelak ia yang akan menjadi kawan kita ketika
menemui Rabb Semesta Alam…
Jangan pernah berhenti untuk selalu
memohon pada-Nya kembali yang baik dan khusnul khatimah, karena akhir
yang baik adalah muara dari kasih sayang Allah.
Ya..jangan pernah berhenti untuk selalu berikhtiar, berdoa dan bersabar dalam menjalani hidup sebagai hamba Allah.
Allahua`lambisshawaab…
Setitik hikmah dari samudera hikmah…

Andai aku menjadi sendok
Maka engkaulah garpu yang selalu setia menemaniku

Andai aku pohon
Maka engkaulah ranting yang tak terpisahkan

Andai kita adalah burung
Maka kita adalah burung merpati yang selalu menepati janji

Andaikan aku bisa memetik bintang
Akan kupetik bintang yang paling bagus yang kau sukai

Andai aku bisa membawamu ke bulan
Akan kubawa berkeliling melihat keindahannya

Andai aku menjadi orang kaya
Akan kubelikan semua permata yang paling mahal di dunia ini
Agar kau bisa memakainya

Andaikan aku seorang raja
Akan kubikinkan istana yg paling megah
Yang tak pernah ada di dunia ini

Tapi aku hanyalah manusia biasa
Bukan sendok, burung, atau orang kaya, apalagi raja

Terimalah aku
Apa adanya, …………..???

Nikmatilah

Maka Nikmatilah, Karena Ini Pun Akan Berlalu
Saat di depanmu terhidang nasi sayur tahu
tempe, mengapa mesti sibuk berandai-andai dapat makan ikan, daging atau ayam ala resto? Padahal kalau saja kau nikmati apa yang ada tanpa berkesah, pastilah rasanya tak jauh beda. Karena enak atau tidaknya makanan lebih tergantung kepada rasa lapar dan mau tidaknya kita menerima apa yang ada. Maka nikmatilah, karena jika engkau terus mengharap makanan yang lebih enak, makanan yang ada di depanmu akan basi, padahal belum
tentu besok engkau akan mendapatkan yang lebih baik daripada hari ini.
Saat engkau menemui udara pagi ini cerah, langit hari ini biru indah, mengapa sibuk mencemaskan hujan yang tak kunjung datang? Padahal kalau saja kau nikmati adanya tanpa kesah, pastilah kau dapat mengerjakan begitu banyak kegiatan dengan penuh kegembiraan. Maka nikmatilah, jangan malah resah memikirkan hujan yang tak kunjung tumpah. Karena jika kau tak menikmatinya, maka saat tiba masanya hujan menggenangi tanahmu, kau pun
kan kembali resah memikirkan kapan hujan berhenti. Percayalah, semua ini akan berlalu, maka mengapa harus memikirkan sesuatu yang tak ada, namun suatu saat pasti akan hadir jua? Sedang
hal itu hanya akan membuat kita kehilangan keindahan hari ini karena
mencemaskan sesuatu yang belum pasti. Saat engkau memiliki sebuah pekerjaan dan mendapatkan penghasilan, meski tak sesuai dengan yang kau inginkan, mengapa mesti kesal dan membayangkan pekerjaan ideal yang jauh dari jangkauan? Padahal kalau saja kau nikmati apa yang kau miliki, tentu akan lebih mudah
menjalani. Maka nikmatilah, karena bisa jadi saat kau dapatkan apa
yang kau inginkan, ternyata tak seindah yang kau bayangkan. Maka
nikmatilah, karena bisa jadi saat sudah kau lepaskan, kau akan
menyesal, ternyata begitu banyak kebaikan yang tidak kau lihat
sebelumnya. Ternyata begitu banyak keindahan yang terlewat tak kau
nikmati. Maka nikmatilah, dan jangan habiskan waktumu dengan mengeluh dan
menginginkan yang tidak ada. Maka nikmatilah, karena suatu saat,
semua ini pun akan berlalu. Maka nikmatilah, jangan sampai kau
kehilangan nikmatnya dan hanya mendapatkan getirnya saja. Maka
nikmatilah dengan bersyukur dan memanfaatkan apa yang kau miliki
dengan lebih baik lagi agar besok menjadi sesuatu yang berguna. Maka
nikmatilah karena ia akan menjadi milikmu apa adanya dan hanya saat
ini saja. Sedang besok bisa jadi semua telah berganti. Jika hari ini engkau menderita, maka nikmatilah, karena ini pun akan berlalu, jangan biarkan dia pergi, kemudian ketika kau harus lebih menderita suatu saat nanti, engkau tidak sanggup menahannya. Maka nikmatilah rasa sedihmu, dengan mengenang kesedihan yang lebih dalam yang pernah kau alami. Dengan membayangkan kesedihan yang lebih memar pada hari akhir nanti jika kau tak dapat melewati kesedihan kali ini.
Dengan menemukan penghapus dosa pada musibah yang kau alami kini.
Maka nikmatilah rasa galaumu, dengan betafakkur lebih banyak atas
permasalahan yang kau hadapi. Dengan memikirkan kedewasaan yang kan
kau gapai atas resah dan galau itu. Dengan kematangan yang akan kau
miliki setelah berhasil melewati semua ini. Maka nikmatilah rasa
marahmu, dengan kemampuan mengendalikan diri. Dengan memikirkan
penggugur dosa yang kan kau dapatkan. Dengan mendapatkan kemenangan
atas diri pribadi yang tak semua orang dapat lakukan.
Maka nikmatilah, dengan berpikir positif atas apa pun yang kau
jalani, atas apapun yang kau hadapai, atas apapun yang kau terima,
karena dengan begitu engkau akan bahagia. Maka nikmatilah, karena ini
pun akan berlalu jua. Maka nikmatilah, karena rasa puas dan syukur
atas apa yang telah kita raih akan menghadirkan ketenteraman dan
kebahagiaan. Sedang ketidakpuasan hanya akan melahirkan penderitaan.
Maka nikmatilah, karena ini pun akan berlalu. Maka nikmatilah, agar
engkau tidak kehilangan hikmah dan keindahannya, saat segalanya telah
tiada. Maka nikmatilah, agar tak hanya derita yang tersisa saat semua
telah berakhir jua.

Lebaran sudah di depan mata. Terbayang sudah keindahannya. Sholat Ied berjamaah di masjid,dimushola dan di lapangan dan berkumpul bersama seluruh keluarga adalah moment yang sangat dinantikan.

senin Kemarin saya pergi ke sebuah mall di padang. Tak seperti hari – hari biasanya. Hari menjelang Lebaran memang selalu penuh sesak dengan manusia. Stand – stand baju, sepatu, sampai stand kue kering berlomba menawarkan ragam diskon untuk menarik pembeli. Mungkin karena terbiasa tinggal di kota kecil yang lowong seperti Sengata, rasanya saya tak betah berlama – lama dalam suasana sesaknya.

Ketika saya terpaksa harus mengantri di kasir, tak sengaja mata saya terpaku pada seorang bapak yang di kelilingi tiga orang anaknya. Di stand suzuya persis di seberang meja kasir tak jauh dari tempat saya berdiri. Tampak si anak merengek – rengek ingin di belikan sesuatu. Seorang menarik bajunya, seorang menarik – narik tangannya, bahkan anaknya yang paling kecil sudah menangis bahkan sampai duduk di lantai. Suara tangisnya yang nyaring, membuat beberapa pasang mata melotot tidak suka. Sadar akan hal itu, segera di rengkuhnya si anak yang menangis di lantai lalu di dekapnya di gendongan. Si bapak nampak sabar menjelaskan kepada anak – anaknya, agar dapat lebih tenang. Mungkin isi kantongnya tak mampu membayar semua permintaan sang anak.

Tiba – tiba saya teringat kenangan masa kanak – kanak dulu. Ketika, saya dan kakak-kakak saya yang selalu egois menuntut sesuatu di setiap Lebaran. Bahkan kadang di sertai dengan ancaman dan merajuk tak mau ikut lebaran kalau sampai keinginan beli baju dan sepatu baru tidak di turuti. Astaghfirullah…, ada rasa bersalah yang sangat menyeruak kalbu …

Saya mencoba merasakan apa yang berkecamuk dalam kepala dan hati si Bapak itu. Pastilah ada keinginan untuk meluluskan keinginan sang anak. Membelikan apa yang mereka minta, walaupun harus menepiskan keinginannya sendiri.

Pastilah, perasaan itu pula yang di rasakan oleh Ayah. Beliau rela memakai baju koko yang itu – itu saja bila lebaran tiba. Hanya agar keinginan kami terbayarkan. Menenggelamkan keinginan hatinya hanya demi melihat senyum – senyum lebar kami saat memakai baju dan sepatu baru di hari Lebaran.

Lamunan saya terhenti ketika tiba giliran untuk membayar di kasir. Saya lalu membereskan barang yang saya beli lalu bergegas meninggalkan mall yang penuh sesak tersebut.

Sepanjang perjalanan pulang, rekaman kejadian di mall tadi kembali berputar – putar di kepala. Membuat kerinduan pada Ayah kembali hadir dalam hati.. Dari beliaulah kami belajar, bagaimana cara mengelola diri dalam Ramadhan. Beliaulah yang membuka mata dan hati kami dengan kunci kesederhanaan. Sayang, tak lama moment Ramadhan dan Lebaran yang kami lalui bersama. Beliau berpulang di saat saya menjelang dewasa dan mulai mengerti apa arti hari kemenangan sesungguhnya.

Klo lebaran yang lalu saya menikmatinya dengan Ayah,Ibu,Kakak,kakak ipar dan keponakan saya yang lucu-lucu,tapi lebaran ini terasa lain,karena kami tidak menikmatinya lagi bersama Ayah,selamat jalan Ayah.

Sekuntum doa saya bacakan untuk Ayah. Ya Allah, ampunilah seluruh dosa – dosa Ayah. Gantikanlah setiap tetes keringatnya dalam mencari rezeki untuk kami dengan butir – butir pahalaMu. Lapangkanlah kuburnya ya Rabb. Sayangilah Ayah, sebagaimana beliau selama ini menyayangi kami anak – anaknya. Rasa rindu yang membuncah membuat butiran airmata deras mengalir di pipi.

Lebaran sebentar lagi. Itu artinya pertemuan dengan Ramadhan penuh berkah tinggal dalam hitungan hari. Tak ada lagi tarawih bersama, tak ada lagi serunya makan sahur dan tak ada lagi nikmatnya berbuka puasa bersama.

Ya Rabb, Semoga sepercik rindu saya pada Ayah, sama seperti kerinduan hati untuk dapat kembali lagi bertemu dengan RamadhanMu yang indah dan bersiap diri menyambut hari Kemenangan …

I really miss u, Ayah …
Ujung Musholla, Oct’07

Seperti tersihir, kita sudah berada pada hari-hari menjelang berakhirnya ramadhan. Shaf-shaf di dalam masjid mulai kelihatan longgar, tidak sepenuh ketika awal ramadhan, kajian-kajian Islam pun hanya dihadiri oleh segelintir orang. Seakan-akan banyak duri tajam yang tersebar sepanjang jalan kemasjid, sedangkan karpet merah nan lembut ketika dipijak membentang sepanjang arah pusat perbelanjaan. Miris!

Namun, ada satu suasana lain ketika memasuki masa-masa berakhirnya ramadhan dengan dijelangnya hari nan bersih, penuh kemenangan bagi mereka yang lulus dalam ramadhan, yaitu Idul Fitri. Suasana hati mulai merindu, padahal ramadhan belum berlalu, berat hati melepaskan dan begitu ingin direngkuh selamanya. Seperti halnya suasana rindu serta membayangkan segala keindahan pada waktu ketika masih kanak-kanak. Rindu pada satu sosok yang selalu setia menemani, memberikan sentuhan sayang, penuh kasih menuntun. Sosok yang selalu tidak bisa lepas dari segala bayangan keindahan mana pun, menyeruak membayangi pelupuk mata. Ibu. Ya, sosok seorang ibu.

Ketika kecil, saya masih mempunyai rekaman, betapa ibu bagaikan seorang yang tiada lelah. Mempersiapkan rumah, menyajikan segala hidangan, menyisihkan sedikit uangnya untuk membelikan pakaian layak pakai pada hari Idul Fitri. Tergopoh-gopoh melayani kerabat dekat maupun yang jauh, yang berdatangan pada hari itu. Dan senyum selalu mengembang di sudut bibirnya, walaupun jelas kelelahan tampak diwajahnya. Indah, mengenang ibu seperti mengenang taman surga yang pernah kita miliki sewaktu kecil. Surga yang ia ciptakan memang penuh pesona. Ibu, tidak hanya berarti bagi kita pada masa kecil, tapi tetap agung, walaupun kita bukanlah lagi anak kecil.

Saya memang sedang membayangkan sosok ibu. Sosok yang sekarang jauh dari tempat keberadaan saya. Sosok yang semakin menua, semakin mengguratkan rasa letih. Saya dan ibu memang semakin dekat ketika masa-masa saya mulai melepaskan diri dari keluarga. Jauh dari ibu dimulai ketika saya mengambil pekerjaan di tempat yang jauh, menikah hingga mempunyai anak pun saya tetap jauh dari keberadaan ibu. Hingga jika lebaran tiba, saya selalu mengusahakan untuk bisa berada di sampingnya. Melebur segala kerinduan kami, melebur segala kisah manis dan indah, hasil kenangan saya dan ibu pada masa kami masih tinggal bersama.

Dilain pihak, saya pun mengenang seorang teman yang juga seorang ibu. Ia telah pergi setahun yang lalu. Ia yang saya kenal sangat energik, penuh kasih pada anak-anaknya, selalu mencurahkan segala perhatiannya untuk keluarganya. Hingga masa-masa terakhirnya, ia masih bisa habiskan bersama orang-orang yang ia kasihi. Ah, di hari lebaran nanti, pastilah rindu kehadirannya yang hangat akan dirasakan oleh anak-anak juga suaminya. Dan itu hanya bisa dilakukan dengan menyambangi makamnya, menuturkan kerinduan, memberikan doa agar selalu lapang ‘tempat tinggalnya’ sejak setahun yang lalu.

Lalu, saya pun membayangkan banyak sosok anak-anak yang kini berada di panti-panti asuhan. Mata mereka kian basah ketika memasuki akhir ramadhan dan menjelang datangnya Idul Fitri. Dekapan dan ciuman dari ibu yang melahirkan mereka tidak dapat mereka rasakan. Meluapnya kegembiraan sebagian orang dalam menyambut hari kemenangan itu, hanya bisa membuat mereka menerawang, merindukan ibu, yang kedua telapak tangannya tidak dapat mereka cium mesra.

Pada hari-hari terakhir ramadhan ini, banyak hal yang ingin kita tarik ulang. Tetap bisa bertemu pada bulan suci ini, menjadi orang yang istiqomah, bertaqwa dengan selalu berbakti kepada orang tua, terutama pada sosok seorang ibu. Pada setiap akhir ramadhan, banyak hal yang harus bisa kita jadikan hikmah dan pembelajaran, dengan semakin bisa membuat kita menjadi umat yang ikhlas. Ikhlas dalam menjalani hidup, ikhlas menjadi seorang ibu, ikhlas menyayangi ibu, ikhlas dalam mengayomi ibu yang semakin tua, ikhlas pada kepergian sosok ibu jika kelak tiba masanya, juga ikhlas untuk menjadi ibu bagi mereka yang merindukan sosok ini.

Semoga, kita bisa menjadikan akhir-akhir ramadhan ini sebuah prestasi yang kelak akan dapat mengangkat derajat kita di mata Sang Pemilik Kehidupan. Insya Allah.

Ibu, …
Pada akhir-akhir ramadhan Rindu membuncah akan indahnya bulan ini ingin selalu khidmat didalamnya Seperti rindu pada dirimu Ingin selalu dekat di sampingmu

Terkadang, tanpa kita sadari, kita telah lupa siapa diri kita. Sehingga tidak bersungguh-sungguh dalam merealisasikan sesuatu atas ilmu yang telah kita terima, dan tidak mengambil pelajaran dari kejadian di masa yang telah lalu.

Rabbana…
Kenalkanlah kami pada diri-diri kami…
Sehingga kami tahu siapa diri kami…
Sehingga kami tahu siapa diri kami…

Dan takkan berani mengambil hak preogratif-Mu
Sebab kami tahu siapa diri kami…
Dan takkan berani kami menuhankan diri
Sebab kami tahu siapa diri kami…

Rabbana…
Sekali lagi, kenalkanlah kami pada diri-diri kami…
Sehingga tahu siapa diri kami…
Sehingga kami tahu siapa diri kami…

Dan takkan berani menilai sesuatu atas apa-apa yang belum kami ketahui dengan pandangan dzahir kami yang lemah
Sebab kami tahu siapa diri kami…
Dan takkan berani untuk mengucapkan sesuatu dengan mudah tanpa mengerti akan pertanggungjawabann ya
Sebab kami tahu siapa diri kami…

Rabbana…
Duhai diri-Mu yang senantiasa menilai segala sesuatu berdasarkan sebuah proses, bukan pada hasil, dan bukan pula pada apa-apa yang tampak…
Kenalkanlah kami pada diri kami…
Kenalkanlah kami pada diri kami…

Dan takkan berani kami mendzalimi siapa pun atas kasih sayang-Mu
Sebab kami tahu siapa diri kami…
Dan takkan berani kami menyakiti siapa pun atas kasih sayang-Mu
Sebab kami tahu siapa diri kami…

Kenalkanlah kami pada diri kami, Ya Rabb…
Agar dengan cepat kami hapus kelukaan di hati
Dan menggantinya dengan cinta-Mu
Menganggapnya sebagai sebuah tarbiyah dari-Mu
Tarbiyah Ilahiyah…
Sebagaimana Engkau telah menguji Suri Teladan kami SAW agar beliau menjadi seorang yang kuat lagi mendalam cintanya pada-Mu
Begitu juga ketika kami diuji dengan kesempitan yang sangat…
Tentramkanlah kami dengan ma’rifah kepada-Mu…
Amiin…

Ikhwah fillah, selama ini mungkin kita salah dalam menilai segala sesuatu. Kita hanya dapat menilai segala sesuatu sebatas kemampuan kita, sebatas panca indra kita. Sehingga kita tidak mempertimbangkan apa-apa yang tidak tertampak pada sesuatu, yang itu hanya kita dapat pahami dengan melihatnya secara lebih dekat. Kita terkadang terlalu tergesa-gesa dalam mengambil tindakan, padahal belum tentu itu baik adanya. Namun, terkadang pula kita tidak menyadari akan kesalahan yang terselip di tumpukan pemikiran.

Terkadang…
Kita harus membenahi diri, sebelum membenahi diri yang lain…

Wallahu a’lam.

Jiwa meregang…
Tubuh pun bergetar hebat, berbaur jeritan ketakutan atau linangan air mata bahagia karena ingin bertemu Rabb-nya.

Ditarik, dan dicerabut dari setiap urat nadi, syaraf, dan

akar rambut. Ini sebuah titah, ia harus kembali kepada pemilik-Nya.
Allahu Akbar, janji-Mu telah tiba.

Yaa Robbi…, alangkah sakit dan pedih.
Perih laksana tiga ratus tusukan pedang, atau ringan bagaikan sebuah pengait saat dimasukkan dan ditarik dari gumpalan bulu yang basah. Duhai jiwa, seandainya engkau tahu bahwa sakaratul maut itu lebih ngeri dan dahsyat dari semua sketsa yang ada.

Sayup terdengar lantunan ayat suci Al Qur’an, dan sesegukan air mata yang tumpah. Lalu, hening berbalut sepi.
Semakin hening, bening…, menggantikan hingar bingar dunia di kala pagi yang penat dan siang yang meranggas. Diam pun enyisakan kepiluan, kesedihan atau berjuta kenangan. Dia telah pergi, dan tak akan pernah kembali.

Yaa Allah…, inikah kepastian yang telah Engkau tetapkan?

Di mana tumpukan harta yang telah terkumpul sekian lama? Pelayan yang setia, rumah mewah, kendaraan, kebun rindang dan subur, pakaian yang indah, dan orang-orang tercinta, dimanakah kini kalian berada? Semua telah direnggut kematian, icampakkan, dan dihempaskannya kenikmatan dunia yang dahulu terlalu dielu-elukan. Adakah segala amanah dapat menuai pahala, duhai Allah.

Kegelapan pun menyeruak, hitam pekat laksana jelaga, sungguh mengerikan sebagian jiwa yang akan berteman dengan amalan jahat hingga tibanya hari kiamat. Mencekam, berbaur jeritan keras memekakkan telinga,”Jangan Kau datangkan kiamat yaa Allah, sungguh aku disini sudah sangat tersiksa!!!” saat diperlihatkan tempatnya di neraka.

Bagi sebagian lainnya, alam kubur justru membuat bahagia. Berteman amal sholeh yang diibaratkan sebagai manusia dengan paras sangat menyenangkan. Lalu ia pun menjerit, menangis bahagia saat ditunjukkan tempatnya di surga, “Datangkan hari kiamat sekarang yaa Allah,
aku ingin segera ke

sana

!!!”

Kematian…
Erat menyiratkan takut dan pilu serta lantunan senandung duka. Menciptakan nada-nada pedih dan gamang yang kadang menghujam iman, hingga hati pun bertanya, mengapa selalu ada perpisahan? Rasa itu menghantam dan menikam pada keluarga yang ditinggalkan.

Namun kematian adalah suatu keniscayaan, karena ia telah dijanjikan. Kematian pun hakikatnya adalah sahabat akrab bagi setiap yang bernyawa. Sayang, kesadaran itu begitu menghentak saat orang-orang yang kita cintalah yang direnggutnya. Ketika itu auranya begitu dekat, serasa setiap helaan nafas beraroma kematian.

Duhai jiwa…
Sadarkah engkau bahwa kelak kuburan adalah tempat peristirahatan? Sudahkah engkau siapkan malam pertama di sana, seperti kau sibukkan diri menjelang malam pertama pernikahan? Tidakkah engkau tahu bahwa ia adalah malam yang sangat mengerikan, malam yang membuat orang-orang sholeh menangis saat memikirkannya.

Kau gerakkan lidah ini untuk membaca Al Qur’an, tetapi tingkah lakumu tak pernah kau selaraskan. Kau kenal setan, tapi mereka kau jadikan teman. Kau ucapkan bahwa RasuluLlah SallaLlaahu Alayhi Wasallam adalah kecintaan, namun sunnah-Nya kau tinggalkan. Kau katakan ingin masuk surga, tapi tak pernah berhenti berbuat dosa. Tak henti-hentinya kau sibukkan dirimu dengan kesalahan saudaramu sendiri, padahal engkau pun bukan manusia suci. Saat kau kebumikan sahabat-sahabat
yang telah mendahului, mengapa kau mengira dirimu tak akan pernah mati?

AstaghfiruLlah al ‘adzim…

Duhai Allah…
Engkau yang Maha Mendengar
Dengarkan munajat ini yaa Robbi, berilah kesempatan
untuk kami selalu memperbaiki diri
Jadikan diri ini bersih, hingga saat menghadap-Mu nanti

Allaahumma hawwin ‘alainaa fii sakaraatil maut
Allaahumma hawwin ‘alainaa fii sakaraatil maut
Allaahumma hawwin ‘alainaa fii sakaraatil maut

Ringankan kematian kami yaa Allah, mudahkanlah duhai
Pemilik Jiwa
Jadikan hati ini ikhlas saat malaikat maut menyapa
Hingga kematian menjadi sangat indah, kematian yang husnul khaatimah

Wallahua’lam bi showab.

Setiap orang pernah mengalami masa-
masa sulit dalam kehidupan. Ada masa
sulit dalam berumah tangga, kehidupan
karir, kesehatan, atau kehidupan
pribadi yang diguncang badai.
Kebanyakan juga setuju kalau masa-masa
sulit ini bukanlah keadaan yang
diinginkan. Sebagian orang bahkan
berdoa, agar sejarang mungkin digoda
oleh keadaan-keadaan sulit. Sebagian
lagi yang dihinggapi oleh kemewahan
hidup ala anak-anak kecil, mau
membuang jauh-jauh, atau lari
sekencang-kencangnya dari godaan hidup
sulit.

Akan tetapi, sekencang apapun kita
menjauh dari kesulitan, ia tetap akan
menyentuh badan dan jiwa ini di waktu-
waktu ketika ia harus datang
berkunjung. Rumus besi kehidupan
seperti ini, memang berlaku pada semua
manusia, bahkan juga berlaku untuk
seorang raja dan penguasa yang paling
berkuasa sekalipun.

Sadar akan hal inilah, saya sering
mendidik diri untuk ikhlas ketika
kesulitan datang berkunjung. Syukur-
syukur bisa tersenyum memeluk
kesulitan. Tidak dibuat sakit dan
frustrasi saja saya sudah sangat
bersyukur. Pelukan-pelukan kebijakan
seperti inilah yang datang ketika sang
hidup sempat membanting saya dari
sebuah ketinggian. Sakit memang, tapi
karena ia sudah saatnya datang
berkunjung, dan kita tidak punya
pilihan lain terkecuali membukakan
pintu rumah kehidupan, maka seterpaksa
apapun hanya keikhlasanlah satu-
satunya modal berguna dalam hal ini.

Senyum penerimaan terhadap kesulitan
memang terasa kecut di bibir. Dan
sebagaimana logam yang sedang dibuat
menjadi patung indah, kesulitan hidup
memang terasa seperti semprotan
panasnya api mesin las, dihajar oleh
hantaman palu besar, kencangnya
cubitan tang, menyakitkannya goresan-
goresan amplas kasar, atau malah tidak
enaknya bau cat yang menyelimuti
seluruh badan patung logam. Tetapi
semua tahu, kalau badan dan jiwa ini
kemudian akan terlahir menjadi ‘patung
logam’ yang lebih indah dari
sebelumnya. Tetapi tetap saja ada sisa-
sisa ketakutan - dan bahkan mungkin
trauma - yang membuat kita manusia
menghindar dari kesulitan.

Cuma, selebar apapun goresan luka yang
dibuat oleh kesulitan, ada mahluk yang
amat berguna dan amat dibutuhkan dalam
pengalaman-pengalaman menyakitkan ini,
ia bernama sahabat. Tidak semua
sahabat fasih memberikan nasehat.
Tetapi dengan kesediaannya untuk
mendengar, sinaran mata yang berisi
empati, kesediaan untuk menjaga
rahasia, sahabat menjadi permata
berlian yang amat berguna dalam
keadaan-keadaan ini.
yang memberitakan bahwa saya
mengundurkan diri dari jabatan
presiden direktur dari sebuah kelompok
usaha amat besar di negeri ini,
langsung menelepon saya dari tempat
yang jauh. Ia berucap
sederhana : ’saya bangga jadi teman
Anda’. Inilah hadiah terbaik yang bisa
dihadiahkan ke diri sendiri. Ia tidak
dibungkus kado, ia juga tidak hanya
datang ketika hari raya atau ulang
tahun. Ia justru lebih sering datang
ketika kita amat membutuhkannya.
seorang sahabat lama yang tinggal di
Surabaya menelepon, tanpa bermaksud
menggurui ia mengutip kata-kata indah
Confucius: ‘….manusia salah itu
biasa, tetapi menarik pelajaran dari
kesalahan itu baru luar biasa’.

Apa yang mau saya tuturkan dengan
semua ini, rupanya sahabat adalah
hadiah paling berharga yang bisa kita
berikan pada diri kita sendiri. Secara
lebih khusus ketika kita ditimpa
kesulitan yang menggunung. Sehingga
patut direnungkan, kalau kita perlu
menabung perhatian, empati, cinta
buat para sahabat. Tidak untuk
berdagang dengan kehidupan, dalam arti
kita memberi dengan harapan agar
diberi kelak, melainkan, sebagaimana
cerita dan pengalaman di atas, dalam
dunia persahabatan, pada saat kita
memberi sebenarnya kita sudah diberi.
Bahkan, setiap sahabat yang memberi
perhatian dan empati pada sahabat
lainnya, ketika itu juga mengalami the
joy of giving. Ketika itu juga seperti
ada beban di bahu yang berrkurang jauh
beratnya.

Ada memang orang yang memiliki banyak
sekali teman. Ke mana-mana namanya
dipanggil orang. Cuman, sedikit
diantara semua teman yang banyak ini
kemudian bisa menjadi sahabat.
Bercermin dari kenyataan inilah, maka
saya lebih memusatkan diri untuk
mencari dan membina sahabat. Jumlahnya
memang tidak akan pernah banyak.
Bahkan ia lebih sedikit dari jumlah
jari tangan. Cuma sesedikit apapun
jumlahnya, sahabat tetap sejenis
hadiah terbaik yang bisa kita bisa
berikan buat diri sendiri.

Mobil mewah memang bisa membawa kita
ke tempat jauh lengkap dengan
gengsinya. Rumah mewah memang bisa
meningkatkan kenyamanan tinggal
sekaligus meningkatkan kelas. Ijazah
lengkap dengan gelarnya yang mentereng
juga bisa meningkatkan percaya diri.
Akan tetapi, baik mobil mewah, rumah
mewah maupun ijazah tidak bisa
menghadirkan empati yang menyentuh hati

Tidak perlu mencari teman secantik Balkis, Jika diri tidak seindah Sulaiman. Mengapa mengharap teman setampan Yusof, Jika diri tidak seindah Zulaika. Tidak perlu menjadi seperti Ibrahim, Jika diri tidak sekuat Hajar dan Sarah. Mengapa didamba teman hidup seistimewa Khadijah Jika diri tak sesempurna Rasulullah s.a.w

Older Posts »