HADIAH TERBAIK UNTUK DIRI SENDIRI…
July 19, 2007 by futura-04
Setiap orang pernah mengalami masa-
masa sulit dalam kehidupan. Ada masa
sulit dalam berumah tangga, kehidupan
karir, kesehatan, atau kehidupan
pribadi yang diguncang badai.
Kebanyakan juga setuju kalau masa-masa
sulit ini bukanlah keadaan yang
diinginkan. Sebagian orang bahkan
berdoa, agar sejarang mungkin digoda
oleh keadaan-keadaan sulit. Sebagian
lagi yang dihinggapi oleh kemewahan
hidup ala anak-anak kecil, mau
membuang jauh-jauh, atau lari
sekencang-kencangnya dari godaan hidup
sulit.
Akan tetapi, sekencang apapun kita
menjauh dari kesulitan, ia tetap akan
menyentuh badan dan jiwa ini di waktu-
waktu ketika ia harus datang
berkunjung. Rumus besi kehidupan
seperti ini, memang berlaku pada semua
manusia, bahkan juga berlaku untuk
seorang raja dan penguasa yang paling
berkuasa sekalipun.
Sadar akan hal inilah, saya sering
mendidik diri untuk ikhlas ketika
kesulitan datang berkunjung. Syukur-
syukur bisa tersenyum memeluk
kesulitan. Tidak dibuat sakit dan
frustrasi saja saya sudah sangat
bersyukur. Pelukan-pelukan kebijakan
seperti inilah yang datang ketika sang
hidup sempat membanting saya dari
sebuah ketinggian. Sakit memang, tapi
karena ia sudah saatnya datang
berkunjung, dan kita tidak punya
pilihan lain terkecuali membukakan
pintu rumah kehidupan, maka seterpaksa
apapun hanya keikhlasanlah satu-
satunya modal berguna dalam hal ini.
Senyum penerimaan terhadap kesulitan
memang terasa kecut di bibir. Dan
sebagaimana logam yang sedang dibuat
menjadi patung indah, kesulitan hidup
memang terasa seperti semprotan
panasnya api mesin las, dihajar oleh
hantaman palu besar, kencangnya
cubitan tang, menyakitkannya goresan-
goresan amplas kasar, atau malah tidak
enaknya bau cat yang menyelimuti
seluruh badan patung logam. Tetapi
semua tahu, kalau badan dan jiwa ini
kemudian akan terlahir menjadi ‘patung
logam’ yang lebih indah dari
sebelumnya. Tetapi tetap saja ada sisa-
sisa ketakutan - dan bahkan mungkin
trauma - yang membuat kita manusia
menghindar dari kesulitan.
Cuma, selebar apapun goresan luka yang
dibuat oleh kesulitan, ada mahluk yang
amat berguna dan amat dibutuhkan dalam
pengalaman-pengalaman menyakitkan ini,
ia bernama sahabat. Tidak semua
sahabat fasih memberikan nasehat.
Tetapi dengan kesediaannya untuk
mendengar, sinaran mata yang berisi
empati, kesediaan untuk menjaga
rahasia, sahabat menjadi permata
berlian yang amat berguna dalam
keadaan-keadaan ini.
yang memberitakan bahwa saya
mengundurkan diri dari jabatan
presiden direktur dari sebuah kelompok
usaha amat besar di negeri ini,
langsung menelepon saya dari tempat
yang jauh. Ia berucap
sederhana : ’saya bangga jadi teman
Anda’. Inilah hadiah terbaik yang bisa
dihadiahkan ke diri sendiri. Ia tidak
dibungkus kado, ia juga tidak hanya
datang ketika hari raya atau ulang
tahun. Ia justru lebih sering datang
ketika kita amat membutuhkannya.
seorang sahabat lama yang tinggal di
Surabaya menelepon, tanpa bermaksud
menggurui ia mengutip kata-kata indah
Confucius: ‘….manusia salah itu
biasa, tetapi menarik pelajaran dari
kesalahan itu baru luar biasa’.
Apa yang mau saya tuturkan dengan
semua ini, rupanya sahabat adalah
hadiah paling berharga yang bisa kita
berikan pada diri kita sendiri. Secara
lebih khusus ketika kita ditimpa
kesulitan yang menggunung. Sehingga
patut direnungkan, kalau kita perlu
menabung perhatian, empati, cinta
buat para sahabat. Tidak untuk
berdagang dengan kehidupan, dalam arti
kita memberi dengan harapan agar
diberi kelak, melainkan, sebagaimana
cerita dan pengalaman di atas, dalam
dunia persahabatan, pada saat kita
memberi sebenarnya kita sudah diberi.
Bahkan, setiap sahabat yang memberi
perhatian dan empati pada sahabat
lainnya, ketika itu juga mengalami the
joy of giving. Ketika itu juga seperti
ada beban di bahu yang berrkurang jauh
beratnya.
Ada memang orang yang memiliki banyak
sekali teman. Ke mana-mana namanya
dipanggil orang. Cuman, sedikit
diantara semua teman yang banyak ini
kemudian bisa menjadi sahabat.
Bercermin dari kenyataan inilah, maka
saya lebih memusatkan diri untuk
mencari dan membina sahabat. Jumlahnya
memang tidak akan pernah banyak.
Bahkan ia lebih sedikit dari jumlah
jari tangan. Cuma sesedikit apapun
jumlahnya, sahabat tetap sejenis
hadiah terbaik yang bisa kita bisa
berikan buat diri sendiri.
Mobil mewah memang bisa membawa kita
ke tempat jauh lengkap dengan
gengsinya. Rumah mewah memang bisa
meningkatkan kenyamanan tinggal
sekaligus meningkatkan kelas. Ijazah
lengkap dengan gelarnya yang mentereng
juga bisa meningkatkan percaya diri.
Akan tetapi, baik mobil mewah, rumah
mewah maupun ijazah tidak bisa
menghadirkan empati yang menyentuh hati